Selamat Datang di Website Resmi Pencak Silat NU Pagar Nusa Cabang Tuban "Jadilah Pesilat Berkarakter Santri, Menjaga NKRI dan Membela Kiai"

Rabu, 25 Juli 2018

Pasukan Inti di Istana Kepresidenan

PERAN SERTA PASUKAN INTI PADA MASA KEPRESIDENAN GUS DUR
OLEH : M. SUGENG, M.PdI., MHI.

Tepat ketika Gus Dur terpilih jadi Presiden Pengurus Pasukan Inti sedang mengadakan kegiatan Gemblengan dan Penampilan sekaligus konsolidasi di Jambi. Dalam kegiatan ini Pengurus Pusat juga membawa beberapa pelatih yaitu M. Syafii, Mashuri dan Abdul Malik Madani guna melatih jurus baku (Sosialisasi Jurus Wajib).

Pada masa Kepresidenan Gus Dur gelombang protes dari pihak lawan politik datang silih berganti tiada hentinya. Lebih lebih setelah Gus dur mengeluarkan Statement DPR kayak anak TK. Dalam rangka membentengi Gus Dur di Istana Pagar Nusa mengirim unsur unsur yang dianggap paling kompeten dalam hal itu. Tim yang dikirim terdiri dari unsur Dewan Khos, Dewan Pendekar, dan Pasukan Inti.

Keseluruhan Tim yang dikirim Pagar Nusa Pusat bermarkas di Pos Komando Jl. K.H. Agus Salim (Kantor PBNU sementara) karena Kantor PBNU Jl. Kramat Raya sedang dibangun total. Dengan Pos yang demikian maka sangat mudah bagi pasukan untuk setiap harinya melakukan pemantauan, penjagaan dan lain lain di Istana dan Bundaran HI yang selalu ramai dengan intrik intrik demo lapangan oleh yang kontra Gus Dur.

Operasi inteligen pertama di Jakarta dilakukan ketika pertama kali Pasukan Inti diturunkan dalam kerangka memantau demo kontra Gus Dur di halaman gedung MPR. Sebelum Pasukan Inti masuk halaman Gedung dua Anggota Inteligen Pasukan Inti telah terlebih dahulu menyusup ke demonstran untuk orientasi dan informasi medan. Dua orang tersebu adalah Radityo Ario Nugroho (Mantan demonstran ITATS Surabaya) dan Adi Candra Irawan (Mahasiswa Unair Surabaya).

Diluar semua itu banyak sekali Tim lain seperti dari Banser, CBP, ANO, Para Santri, dan simpatisan lain yang juga membentengi Gus Dur tetapi bermarkas ditempat yang berbeda beda. Sedang pendukung Gus Dur di Jakarta dengan semangat luar biasa selalu membantu dan memfasilitasi serta aktif berkoordinasi dengan yang datang. Dari Pagar Nusa Jakarta terdapat dua jalur komando yaitu Komanda KH Rozi Jailani  untuk asli Jakarta dan ................. untuk pendatang dan alumni Lirboyo.

Tim ini ternyata bertugas lebih panjang dari yang diperkirakan yaitu sekitar satu tahun sampai lengsernya Gus Dur. Sistem yang dipakai adalah sift bergilir mingguan, dimana separo tim lengkap (ada Dewan Khos, Dewan Pendekar dan Pasukan Inti) bertugas seminggu sedang separo yang lain rehat pulang ke daerahnya masing masing untuk selanjutnya bertugas di minggu berikutnya.

Hal demikian berlaku ketika kondisi kondusif. Jika kondisi kurang kondusif maka seluruh pasukan dipanggil ke Jakarta dan bahkan sering harus nambah anggota Pagar Nusa biasa mengingat jumlah anggota Pasukan Inti yang terbatas.

Di sisi lain Pagar Nusa juga terus membentengi secara spiritual melalui para Kiai Sepuh, Dewan Guru Besar khos, dan Dewan Guru Khos yang biasanya tehnisnya tidak hadir secara fisik. Beliau beliau secara aktif mengirim Doa, Khizib, dan amalan amalan lain.

Kiai dan Orang orang Khusus tersebut antara lain 
KH Muslimin Imampuro Klaten
KH AbduLlah Abbas Buntet
KH AbduLlah Faqih Langitan
KH Mas Ansor Muhajir Surabaya
KH Sufyan Situbondo
KH Khotib Umar Jember
KH Abdul Halim Mbah Sambu Lampung
Abah Upik Malang
KH Maksum Pasuruan
KH Masduqi Mahfudz Malang
KH Soleh Qosim Sidoarjo
Dan masih banyak lagi

Sebagian dari Beliau beliau juga membekali Tim yang dikirim ke Jakarta dengan Amalan amalan, seperti Mbah Liem yang merupakan Dewan Guru Besar Khos memberi amalan 10.000 (penulis lupa 10.000 atau 7000 ) Fatihah dimakam Sunan Ampel sebelum berangkat.  

K.H. Anis Fuad Hasyim memberi amalan penutup mulut DPR yang harus diamalkan dengan berpuasa di malam harinya membaca Wirid di Pos komando, dan luar biasa pada siang sidang DPR yang diagendakan, apa yang disuarakan DPR di media media sama sekali tidak keluar(tidak terungkap) di Gedung DPR.

Gemblengan secara masal pun marak di kantong kantong Pagar Nusa dan NU di seluruh Indonesia lebih lebih di Jawa Timur. Pembentukan sekaligus gemblengan Pasukan Inti kadan dilakukan dengan cara harus membagi pasukan mengingat sebagian telah diberangkatkan ke Jakarta, seperti yang diadakan di Gresik.

Di sana meski gemblengan dilakukan dengan penggebleng lapis II, Bpk Sohiran karena Bpk. H. Khoirul Anam, Penggembleng utama bertugas di Jakarta, tetapi Gemblengan ini tidak mengurangi kualitasnya sebab didukung dengan tambahan kekuatan dari penggalian SDM di Gresik yang terkenal dengan Gemblengannya. Tambahan amalan spiritual itu antara lain diberikan oleh Guru besar dan Pewaris Pencak silat Aliran Cipari KH.......  dan Jurus Taqorrub dari KH...... dan amalan dari KH Robbah Maksum dan KH Sa’dan Maftuh.

Demo kontra Gus Dur terbesar (dihadiri Bpk Dr. H. Amien rais) justru ketika Pasukan Inti baru saja ditarik dari depan Istana sehingga tinggal bagian inteligen Informasi saja yang berada ditempat. Belaiu adalah Bpk Abdurrahim, Bpk zainal Suwari beserta beberapa rekan.  Sedang dari CPB IPNU pun juga demikian yaitu Bpk Slamet.

Dalam Masa satu tahun itu dengan sistem komando yang baik dan visi yang tepat hampir tidak pernah tejadi bentrok secara fisik langsung kecuali hanya hal hal kecil seperti ketika Kantor PBNU Jl. Agus Salim diserbu secara anarkis oleh demonstran kontra Gus Dur. Dalam peristiwa ini bentrok pertempuran secara fisik betul betul terjadi meski akhirnya demonstran lari kalangkabut, ada yang loncat Bus Kota ada yang dibonceng dan banyak yang lari tunggang langgang. Bentrok keras justru terjadi antara kontra Gus Dur dengan Mahasiswa Adma Jaya, yang mana pihak Adma jaya akhiernya meminta bantuan Pasukan Inti yang dibawah Pimpinan Bpk. Zainal Suwari.

Justru pada demo demo gabungan/besar kebanyakan pihak kontra dan pro sangat rukun dan saling membantu dan shalat berjama’ah bersama ketika waktu Shalat tiba, meski tentu saja sebelum dan sesudahnya mengambil posisi berhadapan dan saling dorong dan gontok gontokan.

Demo gabungan pendukung Gus Dur di Gedung MPR berhasil menerobos kawat berduri dimotori Pagar Nusa Lirboyo di bawah pimpinan Abdul Latif, sementara Pasukan inti Pusat yang dikomandani H. Timbul Wijaya bertindak sebagai Pasukan Supporting berjibaku dengan pengalihan perhatian tembakan gas air mata. 

Dalam rangka Long March warga NU dalam rangka memberi support Presiden Gus Dur yang dilakukan dari Monas (Istana) sampai gedung MPR atas prakarsa Ketua Korlap H Imam Ghozali Aro ( Mas Iga) Pasukan Inti menyempatkan untuk rekaman lagu lagu penyemangat demo di Jl. Karah (dekat Jawa Pos) tempat dimana Iringan Pencak Silat Jurus Baku Pagar Nusa dibuat.

Menjelang maklumat dibacakan yang menjadi ending Kepemimpinan Gus Dur, posisi Pasukan Inti berada di Batu Ceper dalam pengawalan dan supporting para Kiai yang rencananya akan mendekat ke Istana guna memberi dukungan Gus Dur. Namun rencana ini terkendala izin trayek dan transportasi yang tidak dapat diperoleh ditambah hampir semua bus lokal (Jakarta dan sekitar) tak ada yang berani masuk Jakarta karena kondisi mencekam. Padahal malam hari sebelumnya atas informasi Pasukan Inti yaitu Bpk Zainal suwari dan M. Sugeng sempat menghadap Kiai Khotib Umar yang saat dipercaya para Kiai memimpin rombongan menuju Jakarta bahwa Kondisi jakarta tidak serawan itu dan tidak ada penghadangan berlebihan dengan tank oleh aparat keamanan.

Dalam kondisi sedemikian rawan Pasukan Inti mendapat berita dengan klasifikasi A1 bahwa dalam istana para Kiai yang menemui Gus Dur sudah gamang melihat kondisi dan situasi Jakarta. Sebagian besar ragu ketika dimintai pertimbangan tentang kemungkinan Dekrit. Usulan sangat tegas dan tanpa ragu justru disampaikan sesepuh Ansor yang juga Ketua PKB jawa Timur Drs. H. Choirul Anam bahwa Gus Dur harus Dekrit.

Sementara diantara rombongan pendukung Gus Dur juga ada yang berspekulasi gamang seperti yang dilakukan KH Faqih (sesepuh IPNU) yang mengatakan diatas kertas Gus Dur jatuh. Namun hal ini ditepis dan minimalisir oleh Prof. Suhar Billah dengan mengatakan Gus Dur jadi Presiden juga bukan diatas kertas, jatuh tidaknya itu justru tergantung bagaimana kita melakukan dukungan itu maksimal atau mlempem. Belakangan hari ini cocok dengan statement Mahfudz MD yang mengatakan konstitusional atau tidak itu tidak hanya ditentukan oleh formalnya tetapi juga oleh dukungan mayoritas rakyat (devakto), seperti Dekrit Sukarno kembali ke UUD 1945 yang secara kacamata kertas inkonstitusional tetapi devakto sampai sekarang diakui keabsahannnya karena adanya penerimaan masyarakat.

Dengan kondisi yang anti klimak demikian ( Gus Dur dilengser secara inkonstitusional) Pasukan Inti dan seluruh Kiai pulang kembali ke Jawa Timur. Meski demikian dalam perjalanan masih sangat banyak rombongan yang justru baru dalam perjalanan berangkat ke Jakarta untuk sedianya mendukung dan memberi tambahan Pasukan Pro Gus Dur. [adm/sek]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar